Pembantaian Relawan Kemanusian Ganggu Kunjungan Obama ke Jakarta
OLEH: ARIEF TURATNO
SETELAH batal berkunjung ke Jakarta (Indonesia), beberapa waktu lalu, rencananya bulan Juni ini, Presiden Amerika Serikat (AS), Barack Husein Obama bakal berkunjung ke Indonesia. Untuk mengamankan kunjungan Obama tersebut, pekan depan kabarnya tim pengaman asal Paman Sam akan datang ke Bali. Mereka akan menyisir tempat-tempat yang diperkirakan bakal dikunjungi Presiden AS berkulit hitam tersebut. Namun pada saat hampir bersamaan, pasukan khusus Israel melakukan pembantaian terhadap sejumlah relawan kemanusia di Kapal Mavi Marmara di laut Mediterania, sekitar 128 kil.ometer dari Gaza, Palestina pada Senin (31/5). Pertanyaan dan persoalannya adalah apakah kunjungan Obama ke Indonesia jadi seperti direncanakan, atau malah dibatalkan, seperti waktu lalu?
AS adalah salah satu negara yang sangat peka sekali terhadap kemungkinan timbulnya ancaman keamanan bagi warga, apalagi Presidennya. Batalnya rencana kunjungan Obama beberapa waktu lalu ke Indonesia, juga diduga gara-gara persoalan keamanan. Disamping waktu itu marak terjadi penggrebekan terhadap para tersangka teroris. Pada saat itu di Jakarta dan kota-kota besar lainnya sedang marak demo menentang pembangunan pemukiman Yahudi di tanah milik Palestina. Meskipun AS punya alasan sendiri tentang pembatalan kunjungan Obama ke Indonesia. Namun bagi kita dan masyarakat umumnya, memahami bahwa pembatalan itu sebagai bentuk kekhawatiran AS atas keselamatan Presidennya.
Sekarang, malah keadaannya lebih gawat daripada saat rencana kunjungan Obama beberapa bulan lalu. Di akhir bulan Mei 2010, tepatnya Senin (31/5), tentara Israel melakukan pembantaian terhadap para relawan yang hendak ke Gaza dalam missi kemanusiaan. Pembunuhan brutal Israel tersebut tentu tidak dapat dimaafkan siapapun. Dan meskipun demo mengutuk Israel belum begitu marak. Namun ledakan demo yang lebih besar mengutuk Israel sangat potensial terjadi di Jakarta dan kota-kota besar Indonesia lainnya. Sebab kebiadaban Israel tersebut sudah melewati batas ambang kesabaran manusia. Kebusukan Israel merupakan ancaman yang sangat potensial bagi kedaiaman manusia.
Sementara negara pendukungnya, AS terkesan diam. Presiden Obama yang selalu ingin mencitrakan dirinya sebagai humanis sejati, ternyata belum memberikan pernyataan apa-apa. Secara resmi pemerintah AS hanya mengeluarkan pernyataan prihatin. Tidak jelas pernyataan prihatin itu ditujukan kepada siapa. Sikap-sikap semacam inilah yang kita yakin bakal memicu kemarahan publik dunia, termasuk di Indonesia. Pertanyaannya adalah apakah dengan kondisi yang sangat dilematis semacam ini, Obama masih berani berkunjung ke Indonesia yang menurut pandangan Paman Sam sebagai negara sarang teroris? Jawabnya, sangat meragukan. Dan keraguan itu akan semakin menguat, jika nanti terjadi gelombang besar unjukrasa di Jakarta, maupun kota-kota besar lainnya di Indonesia. Demo besar ini menurut asumsi kita hanya soal waktu, apakah akan dilakukan sekarang, ataukah bertepatan dengan kunjungan Obama.
Dan kita pun yakin, masalah semacam itu sudah diperhitungkan benar pihak keamanan AS. Mereka tidak akan gegabah mengijinkan Presidennya menginjakan kaki di negara yang mereka katagorikan tidak aman. Meskipun Densus 88 telah bekerja ekstra keras untuk melicinkan jalannya kunjungan Obama ke Indonesia, dengan menyikat habis para tersangka teroris. Bahkan banyak diantaranya harus mati ditembak ditempat. Tidak itu saja, jaringan intelijen pun telah membuat spanduk, selebaran, dan pidato-pidato yang menghujat teroris. Namun, kita yakin, kekhawatiran dari pihak AS tetap saja masih tinggi. Apalagi pengalaman membuktikan, bahwa di AS yang tingkat keamanannya sangat ketat teroris masih mampu beraksi. Apalagi di Indonesia, yang peluangnya untuk melakukan aksi semacam itu sangat besar. Dengan pertimbangan semacam itu, maka saya agak meragukan jika Obama jadi berkunjung Juni ini. (*)


LinkBack URL
About LinkBacks

Reply With Quote